Langsung ke konten utama

Postingan

Balasan 'Pesan dari Amuba di Angkasa'

Ingatkah pada saat awal perkenalan? Oh, bukan Mungkin awal kedekatan Ya, H+12 ulang tahunku           Sebenarnya aku pun ingin menulis tentang dirimu. Tetapi berhubung kau sudah mengirimkan pesan dari tempat yang jauh (re: Angkasa), maka aku disini akan membalas pesanmu. Tapi, tenang, aku masih di bumi.           Aku tidak tahu bagaimana sampai akhirnya kita bisa bertukar cerita hampir setiap hari. Hm, mungkin lebih banyak kau yang bercerita. Aku tetap pada posisiku, menjadi pendengar.           Ingin rasanya tertawa mengingat hari itu. Pada awal pertemuan saja, kau sudah membuatku kesal. Namun, aku catat itu sebagai sebuah kejujuran. Terima kasih sudah menjadi sosok yang mengajariku tentang kejujuran. Kalau aku bicara padamu saat ini, mungkin reaksi menyebalkanmu akan menjawab, “Iya lah. Aku mah mau jadi apa adanya aja.” ...

Sudah Cukup Lamakah?

            Sudah cukup lamakah untuk gue bernostalgia di saat-saat seperti ini? Di masa pencarian jati diri yang tak kunjung usai. Betapa beruntungnya gue pernah tahu bagaimana rasanya diperjuangkan. Ya, literally diperjuangkan.             Masa kecil adalah masa terindah buat gue. Memang agak ekstrem ketika kalian tahu bahwa gue disekolahkan sejak usia 2 tahun. It was amazing, wasn’t it? Sekolah, hm, mungkin taman bermain gue terletak persis di seberang swalayan. Gue paling suka ke McDonald’s di sebelah swalayan tersebut setelah pulang sekolah, eh bukan, taman bermain.             That’s how much my parents treat me very well . Gue selalu berpikir positif masalah pendidikan, dimana pun gue berada. Sejak kecil, orangtua gue sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sampai sekarang.         ...

What's to Expect?

Langkahku terhenti Cukup lama tidak sedekat ini Ruangan berpendingin Melarangku angkat kaki Mataku menjelajah Mencari sang penyembuh rasa jengah Sesaat ku tersenyum, menahan lelah Aku, telah sampai di ‘rumah’             Masuk lagi ke toko buku seperti menghirup udara kebebasan. Deretan buku ‘New Arrival’ menjadi sasaranku, seperti biasa. Kali ini, buku ‘The Geography of Bliss’ berhasil menghentikan mataku yang sedari tadi menelusur. Kisah perjalanan, menarik. Aku tidak percaya kebetulan, tetapi ini memang sebuah kebetulan. Buku ‘Critical Eleven’ yang sedang kubaca juga mengisahkan tentang suatu perjalanan. Pikiranku terusik, mencoba menjawab pertanyaan yang satu ini, “Apa tujuanku hidup?”             Apa yang diharapkan dari hidup di dunia? Apa tujuanku hidup? Apa yang harus dicapai sembari menunggu kematian? Pertanyaan itu merusak jalur pikiran jernihku....

Dan... Maaf?

Dan....bila esok...datang kembali Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda Dan...perlahan kaupun lupakan aku Mimpi burukmu...dimana t'lah ku tancapkan duri tajam Kaupun menangis...menangis sedih Maafkan aku Dan...bukan maksudku...bukan inginku Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka Melupakanmu...menepikanmu Maafkan aku... Reff : Lupakan saja diriku Bila itu bisa membuatmu Kembali bersinar dan berpijar Seperti dulu kala Caci maki saja diriku Bila itu bisa membuatmu Kembali bersinar dan berpijar Seperti dulu kala (Dan – Sheila On 7)             Entah kenapa lagi suka dengerin lagu ini. Setelah dicerna kata demi kata, agak sama dengan keadaan gue sekarang. Ada yang pernah bilang kalau lagu itu bisa mewakili situasi yang sedang terjadi pada diri kita. Mungkin, iya.             Bingung. Beberapa pertanyaan terus berputar ...

(Seorang) 19 Tahun

Tertipu Waktu adalah sebuah tipuan Kadang terasa cepat, juga lambat Tapi banyak yang menggunakannya menuju kesesatan Tertipu Berbagai aktivitas dilakukan Tanpa memperhatikan kesehatan Tanpa memberikan sedikit rehat “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.”   (HR. Bukhari) Sembilan belas tahun di dunia. Menurutmu, apa yang seseorang telah lakukan selama itu di dunia? Tepat hari ini, seseorang telah menapaki angka itu, meninggalkan delapan belas tahun di belakang dengan sejuta keping kenangan dan beberapa harapan yang belum tercapai, serta membawa setumpuk harapan untuk menjalani hidup selanjutnya. Emosional, egoisme, moody, sudah direvisi dari kamus seorang yang sudah menginjak sembilan belas tahun. Hapus. Anggap tidak ada sebelumnya. Bukan lagi cara menyelesaikan suatu masalah. Apa yang seharusnya dilakukan dan d...

[TIKET]

Gue punya tiket. Tiket ini adalah modal gue untuk bisa ke booth makanan, photo booth, juga booth permainan di suatu festival. Tiket yang gue pegang tidak boleh hilang ataupun rusak, karena itu bisa menyebabkan gue tidak bisa ke booth-booth tersebut dan hanya bisa melihat orang-orang yang asyik berkunjung ke sana. Jadi, gue harus memegang tiket dengan hati-hati, menjaganya agar tidak hilang, juga rusak. Gue harus memikirkan cara untuk mempertahankan tiket itu supaya aman dan tidak diambil siapapun, karena bisa saja tangan jahil mengambilnya. Di tiket itu tertera beberapa kolom yang menandakan booth yang berbeda yang bisa gue kunjungi. Gue sudah membayangkan bagaimana senangnya gue berada di festival itu dan berhasil mengunjungi booth-booth tersebut, tentu akan menjadi momen yang tidak terlupakan dan akan menjadi semakin meriah. Gue bisa mengunjungi booth-booth dengan bebas, tidak diatur harus ke booth mana dulu, sebebas gue, semampu kaki gue berjalan ke booth terdekat atau malah yang...

[DESTINASI]

Destinasi. Tujuan.                         Apa yang menjadi destinasimu? Sukses? Menikah? Hidup bahagia? Cukup? Setiap jiwa memegang definisi destinasi yang berbeda. Terdapat daftar panjang untuk mencapainya. Pada hakekatnya, bahwa destinasi sebenar-benarnya manusia adalah ‘dunia’ yang tak kenal waktu. Tempat paling kekal dan tak kenal yang namanya nafsu. Tidak lain tidak bukan, akhirat. Masih ingatkah proses ‘ placement test’ yang menentukan akan masuk syurga atau neraka? Atau mungkinkah diantara kamu ada yang tidak tahu ada tahapan-tahapan itu? Mungkin. Tapi mungkin tidak banyak. Ilmu agama sudah didapat sejak keluar dari rahim wanita luar biasa yang melahirkan kita, Ibu. Jika kamu beragama Islam, sudah dapat dipastikan ada lantunan merdu berasal dari mulut pria luar biasa yang mengumandangkan adzan di telingamu, Ayah. Begitu luar biasa sampai kamu ya...