Langsung ke konten utama

Postingan

20 dan Sudut Pandang

Semakin hari semakin kuat keinginan untuk mengangkat kisah-kisah teman atau sahabat. Bukan karena cerita saya tidak menarik untuk dibagikan kepada pembaca, hanya saja dengan menceritakan kisah orang lain, akan membuat saya dan juga pembaca sama-sama mendapat ilmu baru. Untuk saat ini, saya memiliki beberapa calon kisah yang ingin diangkat, tetapi jika ada yang ingin bercerita secara sukarela—karena ingin berbagi kisah dan menginspirasi banyak orang—silakan hubungi saya lewat WA atau DM Instagram. Jangan berpikir ini akan merepotkan, justru dengan senang hati saya akan mendengarkan kalian dan mengajak diskusi tentang kisah kalian. Kalau dipikir-pikir, kenapa sih saya senang mendengarkan kisah orang? Kepo banget? Sudut pandang dan pengalaman baru. Boleh jadi dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sudut pandang hanya ada tiga, yaitu: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga, dan sudut pandang serba tahu. Faktanya, dari tiga sudut pandang ini akan bercabang menjadi ...

Untukmu #2

Tidak ingin, tapi merasakan. Ya, kadang hidup selucu itu.  Adakah yang salah dari mood yang tiba-tiba tidak bersahabat? Ingin keluar dari keramaian, menumpas siapapun yang menghalanginya pergi. Kesalahan itu terletak pada hati ini, kurasa. Tidak ada jaminan, kan, bahwa jika orang itu baik, dia akan baik selamanya? Teori macam apa itu? Diri ini hampir memahami seluruh masalah hidupmu. Terpanggil atau terpaksa? Diri ini mencoba berbincang denganmu dengan syarat, menyesuaikan dengan keadaan hatimu. Kebaikan atau keterlaluan? Ah, aku pun tidak mengerti. Sudah terlalu sering aku menerapkan teori yang aku dapatkan ketika duduk di bangku SD. Toleransi kepada orang lain. Anggap saja orang lain dalam konteks ini adalah dirimu. Hebat, kan? Hebat, karena aku bertahan dalam waktu yang aku juga tidak ingin hitung. Hebat, karena kamu membuatku berdiri di ‘titik’ ini sampai hari ini tanpa usaha sedikit pun. “Hebat atau bodoh?” logikaku bersuara. Nampaknya, dia telah jengah te...

Untukmu #1

            Aku benar-benar tidak mengerti. Hampir dua belas purnama aku mengenalmu. Apa yang membuatmu selalu memutuskan untuk terpuruk di waktu-waktu sendirimu? Jawabannya hanya satu dan mungkin bertolak belakang dengan pendapatmu selama ini, “Aku bukan hal penting di hidupmu”, bukan begitu? Simpan kata-kata ‘terbaik’ mu, katakan dan nyatakan pada orang yang tepat kelak, jangan kepadaku. Sejak saat itu—saat pertama aku mengenalmu—mungkin saat itu juga aku berharap menjadi orang yang mendengar kata-kata ‘terbaik’ mu kelak. Tapi, semakin mengetahui segala tentangmu, aku semakin yakin bahwa ada batas diantara kita yang sangat kokoh. Aku hanya merasa sakit. Sakit setiap kali kamu selalu menyalahkan diri sendri. Sakit setiap tahu kalau kamu merasa tidak ada gunanya atas semua pencapaianmu saat ini. Sakit, karena ternyata kamu tidak pernah menganggapku. Sudah cukup banyak yang kita perbincangkan, tetapi kurasa belum sedikit...

28 November 2016

                       Selamat Hari Dongeng Nasional! Tahu kenapa 28 November dijadikan Hari Dongeng Nasional, Bil? Cari tahu sendiri lah, ya. Tapi aku berharap kamu bisa menebar manfaat dan terus diingat semua orang atas karyamu, seperti sosok yang dijadikan alasan mengapa 28 November ditetapkan sebagai Hari Dongeng Nasional. Sudah melakukan perubahan apa saja selama 20 tahun ini? Kuharap dirimu sudah banyak belajar dan memantaskan diri seperti yang selalu kau ungkapkan. Semoga semakin diperjelas jalan yang akan kau tempuh, Bil. Di sini aku hanya bisa mendoakan, tidak punya hak untuk ikut apalagi mencoba menjadi penunjuk jalanmu.             Lalu, apa rencanamu? Mengakhiri ‘kepala’ 1 dengan meninggalkan banyak pahit manis kenangan di belakangmu? Atau membiarkan kenangan itu tersimpan rapi di salah satu bilik hatimu dan terpatri di sala...