Langsung ke konten utama

Postingan

Hak Tak Berlaku

Apa rasanya jika pendapatmu tak didengarkan? Kebebasan pendapat setiap orang seperti tidak berlaku saat ini. Semua terpusat oleh satu orang, setia berkicau sementara ada yang ditindasnya. Ditindas bukan secara fisik, melainkan ditindas hak bicaranya. Boleh saya berbicara, tapi apa hasilnya? Lagi-lagi karena masalah sepele. Seperti terhipnotis. Pernah merasakan dihipnotis? Ya beginilah, hanya bisa mendengarkan “dia” yang berbicara sepuasnya. Tidak ada yang tahu mana yang benar dan salah, karena hak bicara dibiarkan meluncur dari satu mulut saja. Mungkin kau takkan pernah tahu betapa sakit ditindas seperti itu. Saya tidak menyalahkan, hanya saja suatu saat kau harus tahu hal itu. Sekarang, tidak ada rasa kebersamaan lagi. Bersama itu berbagi, berbagi dalam suka dan duka, mau menampung aspirasi orang-orang terdekatnya. Kita sangat dekat, terlalu dekat. Apa karena terlalu dekat sehingga kau merasa saya tidak hak untuk bicara?

Penyebab Mood Hancur

Wajar? Dapet toleransi? Iya kali ya. Mood lagi jelek sekali hari ini. Mau cerita tapi takut disangkanya, “Emangnya lu gak pernah kayak gitu?” atau, “Alah, yaudah lah, gausah dipikirin. Kok jadi lu yang repot?” Komentar macam di atas ini yang bikin tambah gregetan. Iya sih emang bodo amat, sangat tidak peduli. Tapi kalian yang akan berkomentar seperti yang di atas ini tau efeknya? Dalam waktu jangka pendek sih gak terlalu keliatan dan efek yang dibuat juga masih kecil, tapi dalam jangka lama? Who knows. Ada beberapa tipe orang. Ada yang mengumbar-umbar hal ‘jelek’ itu di depan temen-temennya dan malah bangga, ada juga yang diam-diam, bergerilya hehehe. Mood lagi tidak bagus gara-gara hal ini. Masalahnya yang lagi dihadapi adalah tipe pertama. Mau dibilangin kayak apa juga, dia tetep jalan, cuek, dan kesannya “Siapa lo? Hak-hak gue deuh, riweuh amat.” Iya, iya, iya, terserah juga lah. Banyak yang bikin sakit hati mengenai hal ini, mungkin bukan saya saja yang merasakan. Ada rasa r...

31 Juli 2013

Wih! 31 Juli 2013. Hari ini sebelum mengakhiri bulan ini, gue mau curhat dulu soal #ProyekMenulis. Entah pencapaian apa hingga bulan ini, tapi gue merasa bisa melakukan hal yang ada di to do list. Hari ini tiba-tiba ada yang teriak, “Paket!” Ibu yang lagi enak nonton TV menyuruh gue menerima paket. Males sih sebenernya, tapi gue yang paling deket sama pintu. Dengan langkah gontai *ceilah bahasanya* gue menerima paket. Mas pengantar paket bilang, “Ini dengan Faadhila Ramadhanti? Ada pesanan buat mbak.” JENG! Malas yang tadi menjalari tubuh seketika pergi, mata yang tadi sungkan melihat mas-mas pengantar surat langsung melek menatap mas-mas tersebut. Bungkus itu? Dari nulisbuku? Hampir gue berseru kegirangan, tapi untung masih tahu tempat lah ya. Di dalem rumah. “Bu, ternyata bukuku yang dateng!” Ibu menyahut, “Asik, coba dibuka.” Gue bilang jangan dulu, mau foto sama buku dan bungkusnya, hehehehe. “Tapi masa belum mandi fotonya? Sana mandi dulu!” Terpaksa lah gue mandi. Mandi beb...

Pelajaran Bermakna

Menulis adalah salah satu hobiku. Memang aku hanya menulis ketika tidak ada pekerjaan yang penting. Sekolahku mendidik murid-muridnya dengan cara memberi tanggungjawab yang tidak sedikit. Orang tuaku memilih sekolah itu untukku sebab mereka menilai diriku sebagai anak yang ceroboh dan suka menunda-nunda. Menurutku, itu sah-sah saja asal murid-muridnya juga dapat pelajaran yang bermakna. Bulan ini libur lebaran, aku mempunyai waktu banyak untuk menulis. Di samping itu, aku punya jadwal liburan dengan teman-temanku.           2 Juli 2013. Di salah satu website yang aku ‘temukan’ dengan   tidak sengaja, terpampang pengumuman! Pengumuman lomba menulis se-Indonesia. Aku berinisiatif untuk mengikutinya. Cukup mudah aku melakukannya karena tema yang diberi sudah ada dalam draf -ku. Aku hanya merevisi sedikit dan melihat tanggal deadline yang masih 9 hari lagi dan di pukul 10 pagi. “Ah masih lama.” Besok adalah jadwalku dengan teman-teman...

Lelah Mengingat

                Malas untuk mengingat karena kejadian itu sangat tidak pantas terjadi. Mungkin waktu itu banyak kejadian menyenangkan, tetapi kejadian itu harusnya tidak terjadi. Malu, sedih, marah, semua jadi satu. Apa yang kalian bicarakan terhadapku? Apa yang kalian inginkan? Rumah, kendaraan, harta? Semua akan aku beri asal kalian jujur.   Tidak ada yang sempurna di dunia ini, tetapi kita bisa mencobanya. Aku berusaha lebih baik kedepannya dan pintar-pintar memilih teman mulai sekarang. Aku mungkin akan lebih dewasa menghadapi masalah, apalagi semacam itu. Lelah mengingat dan mengambil pelajaran dari kejadian itu. Apa yang harus aku jadikan pelajaran? Bingung, karena memang aku telah melupakannya. By: Faadhila Ramadhanti Mustikadewi #ngabubuwrite