Langsung ke konten utama

Postingan

"22, Let Me Do More!" Katamu

Maaf belum menjadi sosok yang diharapkan Maaf tidak selalu ada di waktu yang tepat Maaf karena mungkin sering mengganggu pikiran Maaf untuk semuanya
MASIH INGET FOTO INI? Masih disimpen gak di rumah? Gak kerasa 2 tahun lalu..
                Masih ingat pesanmu tahun lalu? Hehe, mustahil kamu lupa. Bahkan setiap bulan berakhir, aku selalu mengingat ‘tugas’ mu itu. Tapi, mungkin aku terkesan tidak memenuhi permintaanmu itu. Maaf ya.
                Sebelumnya, mau tanya kabar dulu nih yang udah lengser. Sepertinya aku sangat kurang berkomunikasi denganmu beberapa bulan terakhir ini, ya? Boleh kesel, silakan aja. Tapi, untuk tahun terakhir ini, pikiranku benar-benar terkuras untuk kuliah dan keluarga. Bagaimana kabarmu? Semoga semangatnya tidak pernah luntur walaupun sudah demisioner. Dan, bagaimana setelah demis? Kapok? Ketagihan? Semoga yang didapat lebih banyak dari yang diharapkan selama memimpin kemarin. Aamiin.
                Selama satu tahun ini sepertinya komunikasi kita mema…
Postingan terbaru

Assessing Yourself: Don't Read If You're Busy

Tentang diri sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah gudangnya salah. Begitu juga gue. Tapi, penting untuk kita semua untuk mengenali diri sendiri, kelebihan maupun kekurangan. Setiap orang memiliki latar belakang berbeda sehingga berbeda pula cara berpikirnya. Hanya orang yang open minded yang bisa menerima pemikiran berbeda. Mungkin tulisan ini akan membuat beberapa orang memilih untuk meninggalkan tulisan yang ‘asal’ ini. Mungkin juga ada banyak orang yang banting setir jadi netizen yang suka berkomentar tanpa ada arah dan tujuan. Atau mungkin juga ada segelintir orang yang akan mengiyakan tulisan ini. Pahami bahwa blog adalah wadah mencurahkan isi hati dan pikiran. Ini bukan rubrik opini Kompas yang harus melalui berbagai seleksi agar dapat diterima semua pembacanya. Tulisan ini bisa jadi bersifat subjektif karena ini murni pendapat saya.
     Pertama, gue paling tidak suka ada orang yang mengklasifikasikan orang dengan sebutan “Ah, lo kapitalis banget. Mikir diri…

Review Film #TemanTapiMenikah

Film #TemanTapiMenikah ini kayanya tidak perlu ditanya lagi, “Ceritanya bagus atau gak?” Kalau menurut gue, ya pasti bagus dan kita semua tahu cerita cinta Ayu dan Ditto bukan cerita biasa. Jadi, kita skip saja mengenai alur cerita atau plot nya, ya. Sedikit mungkin, menurut gue scriptwriter nya, Johanna Wattimena dan Upi, bisa memadatkan ceritanya tanpa kehilangan esensi dari keseluruhan cerita. Great!         Sekarang kita bahas aktornya. Menurut gue, Vanessa dan Adipati ‘dapet’ untuk memerankan Ayu dan Ditto. Gue bisa membayangkan mereka benar-benar Ayu dan Ditto walaupun Vanessa kurang greget sedikit karena Ayu agak lebih ‘cowo’ daripada itu haha. Adipati keren sih memerankan sebagai Ditto, mulai dari gestur, cara bicara, menurut gue sesuai sama apa yang gue baca di buku #TemanTapiMenikah dan yang gue liat selama ini di dunia maya. Pemeran pendukung pun bisa melengkapi cerita dengan baik.          Untuk masalah sinematografi, gue awam sekali dengan hal ini sebenarnya. But, w…

Ikhlas, Sang Peredam Amarah

Don’t judge a book at one point of time’.
Hari ini mendengar quote bagus itu. Kepalaku mengangguk, tanda setuju. Jangan menilai seseorang hanya pada satu waktu. Apakah berarti bahwa first impression itu bukanlah sesuatu yang mutlak?
Terbersit beberapa kejadian yang membuatku malah banyak membuat asumsi tidak jelas. Peristiwa yang menurutku harusnya melibatkanku, tapi nyatanya aku tidak dilibatkan. Ibarat ada anak yang harusnya makan bersama keluarganya di rumah, tapi tidak diajak, dilupakan begitu saja. Ya, kira-kira begitulah asumsiku saat itu. Sakitnya bukan main.
Susah rasanya berikhlas diri. Sedih karena kemungkinan-kemungkinan menyakitkan yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut bisa saja benar. Malu karena pribadi ini belum meningkat kapasitasnya, masa ikhlas saja sulit untuk dilakukan? Astaghfirullah.
Aku masih menganut paham bahwa ‘first impression’ adalah hal yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan. Namun, kali ini aku harus menyerah pada fakta terbaru.
Entah bagai…

Senandung Biru #1

Aku Bisa!

Hanya bisa di sini, tidak berkutik, menutup amygdala supaya tidak mengolah informasi apapun yang menyakitkan.
Saat ini, pikiranku dipenuhi banyak asumsi, bahkan yang tidak masuk akal sekalipun. Rasanya tidak ingin mengingat apa yang sudah berlalu. Supaya hati ini tenang dan tidak dirundung kesedihan yang berlarut.
Merapikan lagi kisah demi kisah sepertinya membuatku semakin sedih. Kelenjar air mata sudah merutuk ingin melakukan produksi berlipat. Namun, untuk apa? Aku sendiri yang berkata bahwa diri ini akan kuat. Hati dan mulut memang susah sinkron.
Hanya aku dan Allah yang benar-benar mengetahui keadaanku saat ini. Jika memang sedih, biarkan senyum ini tetap mengembang dan badan ini tetap melakukan aktivitasnya tanpa harus menunjukkan kesedihannya. Jika memang sedih, biarkan aku membuat kalian yang bertemu denganku setiap hari, tertawa dengan jokes recehku. Jika memang sedih, doakan supaya ‘penyebab’ nya pun akan segera kembali dan menjelaskan semuanya.
Yang diperlukan sekarang a…

Assalamualaikum, 21 Tahun!

Assalamualaikum, bapak ketua Hipotesa. Salam hormat hehe.
Bukan yang pertama kali aku menulis untukmu, kan? Sudah tercatat, ini tahun ke-2 aku menulis saat ulangtahunmu. Semoga tidak bosan.
Aku bingung berkata-kata sebenarnya. Intinya aku semakin bangga atas apa yang sudah dicapai olehmu selama setahun ini. Mungkin aku bukan yang pertama kali melihat secara langsung proses serta aksi nyatamu di kampus sana, aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi, aku selalu yakin bahwa setiap pencapaianmu akan sampai ke telinga ini. Iya sih pasti. Saat aku membaca lagi ‘kado’ ku tahun lalu, sepertinya kamu melaksanakannya dengan sangat baik. Iya gak? Harus dijawab ya!
Watu itu aku menuliskan beberapa hal: menjadi sibuk, berkontribusi pada departemen, menjadi orang penting, mencanangkan gerakan ala Bilfan, belajar, mengejar ‘dia’, juga yang paling penting proses lebih dekat denganNya. Entah apakah semuanya sudah terkonsep dalam buku catatan atau dalam otakmu, tapi aku (lagi-lagi) yakin bahwa kamu telah mempe…