Langsung ke konten utama

Postingan

Review Film #TemanTapiMenikah

Film #TemanTapiMenikah ini kayanya tidak perlu ditanya lagi, “Ceritanya bagus atau gak?” Kalau menurut gue, ya pasti bagus dan kita semua tahu cerita cinta Ayu dan Ditto bukan cerita biasa. Jadi, kita skip saja mengenai alur cerita atau plot nya, ya. Sedikit mungkin, menurut gue scriptwriter nya, Johanna Wattimena dan Upi, bisa memadatkan ceritanya tanpa kehilangan esensi dari keseluruhan cerita. Great!         Sekarang kita bahas aktornya. Menurut gue, Vanessa dan Adipati ‘dapet’ untuk memerankan Ayu dan Ditto. Gue bisa membayangkan mereka benar-benar Ayu dan Ditto walaupun Vanessa kurang greget sedikit karena Ayu agak lebih ‘cowo’ daripada itu haha. Adipati keren sih memerankan sebagai Ditto, mulai dari gestur, cara bicara, menurut gue sesuai sama apa yang gue baca di buku #TemanTapiMenikah dan yang gue liat selama ini di dunia maya. Pemeran pendukung pun bisa melengkapi cerita dengan baik.          Untuk masalah sinematografi, gue awam sekali dengan hal ini sebenarnya. But, w…
Postingan terbaru

Ikhlas, Sang Peredam Amarah

Don’t judge a book at one point of time’.
Hari ini mendengar quote bagus itu. Kepalaku mengangguk, tanda setuju. Jangan menilai seseorang hanya pada satu waktu. Apakah berarti bahwa first impression itu bukanlah sesuatu yang mutlak?
Terbersit beberapa kejadian yang membuatku malah banyak membuat asumsi tidak jelas. Peristiwa yang menurutku harusnya melibatkanku, tapi nyatanya aku tidak dilibatkan. Ibarat ada anak yang harusnya makan bersama keluarganya di rumah, tapi tidak diajak, dilupakan begitu saja. Ya, kira-kira begitulah asumsiku saat itu. Sakitnya bukan main.
Susah rasanya berikhlas diri. Sedih karena kemungkinan-kemungkinan menyakitkan yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut bisa saja benar. Malu karena pribadi ini belum meningkat kapasitasnya, masa ikhlas saja sulit untuk dilakukan? Astaghfirullah.
Aku masih menganut paham bahwa ‘first impression’ adalah hal yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan. Namun, kali ini aku harus menyerah pada fakta terbaru.
Entah bagai…

Senandung Biru #1

Aku Bisa!

Hanya bisa di sini, tidak berkutik, menutup amygdala supaya tidak mengolah informasi apapun yang menyakitkan.
Saat ini, pikiranku dipenuhi banyak asumsi, bahkan yang tidak masuk akal sekalipun. Rasanya tidak ingin mengingat apa yang sudah berlalu. Supaya hati ini tenang dan tidak dirundung kesedihan yang berlarut.
Merapikan lagi kisah demi kisah sepertinya membuatku semakin sedih. Kelenjar air mata sudah merutuk ingin melakukan produksi berlipat. Namun, untuk apa? Aku sendiri yang berkata bahwa diri ini akan kuat. Hati dan mulut memang susah sinkron.
Hanya aku dan Allah yang benar-benar mengetahui keadaanku saat ini. Jika memang sedih, biarkan senyum ini tetap mengembang dan badan ini tetap melakukan aktivitasnya tanpa harus menunjukkan kesedihannya. Jika memang sedih, biarkan aku membuat kalian yang bertemu denganku setiap hari, tertawa dengan jokes recehku. Jika memang sedih, doakan supaya ‘penyebab’ nya pun akan segera kembali dan menjelaskan semuanya.
Yang diperlukan sekarang a…

Assalamualaikum, 21 Tahun!

Assalamualaikum, bapak ketua Hipotesa. Salam hormat hehe.
Bukan yang pertama kali aku menulis untukmu, kan? Sudah tercatat, ini tahun ke-2 aku menulis saat ulangtahunmu. Semoga tidak bosan.
Aku bingung berkata-kata sebenarnya. Intinya aku semakin bangga atas apa yang sudah dicapai olehmu selama setahun ini. Mungkin aku bukan yang pertama kali melihat secara langsung proses serta aksi nyatamu di kampus sana, aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi, aku selalu yakin bahwa setiap pencapaianmu akan sampai ke telinga ini. Iya sih pasti. Saat aku membaca lagi ‘kado’ ku tahun lalu, sepertinya kamu melaksanakannya dengan sangat baik. Iya gak? Harus dijawab ya!
Watu itu aku menuliskan beberapa hal: menjadi sibuk, berkontribusi pada departemen, menjadi orang penting, mencanangkan gerakan ala Bilfan, belajar, mengejar ‘dia’, juga yang paling penting proses lebih dekat denganNya. Entah apakah semuanya sudah terkonsep dalam buku catatan atau dalam otakmu, tapi aku (lagi-lagi) yakin bahwa kamu telah mempe…

'Melatih' Niat

Tidak ada yang ingin memiliki kenangan tidak baik semasa hidupnya. Tidak ada manusia yang menginginkan masalah datang silih berganti. Tidak ada yang ingin menjadi buruk di mata orang lain. Saya salah satunya.
Tapi, bagaimana jika itu sebuah kesalahan yang memang harus dibenarkan? Bagaimana jika itu sebuah hal yang mengganggu jalannya suatu sistem? Bagaimana jika itu adalah pelanggaran etika yang harus ditegakkan? Apakah saya harus diam dan membiarkannya?
Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mungkin saya sudah membuat suatu kesalahan, dan biarkan saya introspeksi diri saya. Saya hanya tidak bisa membiarkan hal yang dinamakan ‘sopan-santun’ menjadi suatu hal yang dikesampingkan. Kalau bicara soal toleransi, saya bisa melakukannya, selama hal itu memang bisa ditoleransi, dan tidak melanggar aturan yang ada.
Maaf, mungkin saat ini saya belum mencapai versi terbaik dari diri saya. Jika persepsi yang ada ternyata berbeda dengan maksud yang saya ingin sampaikan dengan baik, mohon dibicarak…

Eco Fun Go! Festival, Meet My New Family!